Minggu, 15 Januari 2017

Michel Foucault dan Film Stonehearst Asylum



                      Film Stonehearst Asylum ketika dikaitkan dengan pandangan Michele Foucault menjadi relevan karena kasusnya hampir memiliki kesamaan. Dalam perkuliahan teori Kritik dan Postmodern telah dijelaskan bahwa pandangan dari Foucault melihat cara kerja relasi kekuasaan yang terjadi di era Modern. Latar belakang Foucault sebagai penderita gangguan seksualitas mempengaruhi cara pandangnya terhadap realitas sosial yang ada di masyarakat pada zamannya. Foucault adalah seorang homoseksual atau Gay, ketertarikannya terhadap laki-laki membuat dia banyak di pandang aneh oleh masyarakat. Sehingga orangtuanya membawanya ke psikiater di rumah sakit jiwa untuk berharap dapat di normalkan kembali perasaan seksualitasnya. Saat itu Foucault melihat ada yang salah dalam cara pandang masyarakat pada orang yang memiliki penyakit kejiwaan. Orang gila selalu dipandang aneh karena cara berfikirnya berbeda dengan manusia normal pada umumnya. Disini Foucault menganggap bahwa ada kekuasaan yang besar sehingga masyarakat dapat berpandangan seperti itu terhadap orang gila. Kekuasaan yang dimaksud adalah Ilmu Pengetahuan. Selama ini sejarah dianggap suatu sistem kepentingan elit, maka Foucault membuat buku arkeologi pengetahuan yang berusaha menggali pengetahuan yang ada di Masyarakat. Yang dicontohkan salah satu kasusnya pada seksualitas yang ada dalam pemikiran di Masyarakat di masa periode Victorian hingga abad 18. Dalam majalah basis dikatakan, kekhususan pemikiran Foucault dibandingkan dengan para filusuf sebelumnya kiranya dapat juga diartikan sebagai perubahan gaya atau model dalam wacana pengetahuan, suatu pokok yang menjadi perhatian Foucault juga. Sebagaimana dikemukakan oleh Karlina Leksono, Foucault dengan amat jeli dan teliti mengutarakan bagaimana ilmu-ilmu berkembang secara menyeluruh dalam satu periode, kemudian berganti secara menyeluruh pula dalam periode yang lain kadang secara tiba-tiba. Foucault menyebut keseluruhan pola berpikir dengan sistem wacana, yang digunakan, pemilihan nilai yang menjadi objek ini sebagai episteme. Kita mungkin mengira bahwa pengetahuan berkembang berkat pemikiran tokoh-tokoh yang berhasil menelorkan gagasan-gagasan mereka dengan cemerlang ke tengah masyarakat pada suatu saat. Akan tetapi, Foucault menyangkal kemungkinan itu, sebab setiap pengetahuan kita dilingkupi oleh episteme tadi yang merupakan jalinan yang luas rumit antara berbagai kepentingan dan kepekaan mereka mengenali tatanan rasional. Bahwa perumusan para ilmuwan yang serius sekali pun tak bakal terjadi selain berkat kaitan-kaitannya menyeluruh dengan yang ada itu, dan bukan sebaliknya (Basis: 6: 2002)1. Foucault menemukan ada episteme yaitu perbedaan pandangan di masyarakat setiap periode yang muncul setiap zaman pemikiran.
             Seperti yang ada pada film Stonehearst Asylum dengan latar belakang tahun 1800an di perlihatkan bahwa ada sebuah rumah sakit jiwa banyak ditemui orang gila dengan mempunyai latar belakang riwayat kehidupan berbeda-beda. Mereka dianggap memiliki perilaku dan cara berpikir yang berbeda dengan orang normal yang tidak mempunyai rasio yang jelas. Orang gila tersebut ditangani oleh dokter kejiwaan yang memiliki metode penyembuhan yang tidak manusiawi. Sama seperti pemikiran Foucault yang menemukan bahwa sejak era pasca klasik, masyarakat menganggap orang gila harus ditangani oleh dokter agar dapat di normalkan kembali. Karena pada zaman pasca klasik Ilmu pengetahuan menjadi salah satu kekuasaan tertinggi yang ada di Masyarakat. Oleh karena itu orang yang dianggap mampu oleh masyarakat untuk menormalkan kembali orang gila yaitu dokter penyakit kejiwaan karena dokterlah yang dianggap memiliki Ilmu pengetahuan mengenai kejiwaan. Metode penyembuhan yang dilakukan seperti memberikan obat penenang yaitu heroine dengan dosis yang tinggi, kemudian setrum listrik, dan juga mereka di penjara. Metode tersebut dilakukan untuk membuat orang gila ketakutan dan mau menuruti perintah dokter agar bisa dihilangkan latar belakang riwayat kehidupan yang membuat mereka bisa gila. Anehnya pada zaman itu yang dikisahkan dalam film ini, mereka yang dianggap gila disama ratakan metode penyembuhan yang dilakukan. Sesuai dengan pandangan Foucault mengenai episteme yaitu perbedaan pandangan setiap jaman pemikiran ketika disandingkan dengan film Stonehearst Asylum yaitu pada metode penyembuhan yang dilakukan dokter jiwa terhadap orang gila memiliki perbedaan pada zaman pasca klasik dan sekarang. Pada masa pasca klasik metode penyembuhan yang dilakukan bisa dikatakan tidak manusiawi kemudian metode yang dilakukan juga seperti disama ratakan. Hal ini berbeda ketika pada zaman sekarang, coba saja berkunjung ke rumah sakit jiwa di daerah Lawang, Malang dapat ditemui metode penyembuhan yang tidak begitu kejam seperti halnya pada zaman pasca klasik dan tidak disama ratakan pasiennya karena ketika orang gila pada zaman sekarang ingin di normalkan kembali akan dilihat dulu latar belakang atau riwayat kehidupannya, kemudian nantinya orang gila tersebut akan dimasukkan pada kelas-kelas yang berbeda. Kelas-kelas tersebut seperti program penyembuhan yang sesuai dengan tingkat kegilaannya. Salah satu metode penyembuhan yang diketahui menekankan kepada moralitas agama terhadap pasien yang kegilaannya dianggap tidak begitu serius seperti para pasien diajak untuk sholat dan mengaji. Banyak dari mereka dengan cara metode penyembuhan seperti itu bisa normal kembali kejiwaannya dan dianggap sudah sembuh oleh dokter. Artinya disini dari metode penyembuhan terhadap orang gila ada perbedaan pada zaman klasik dan zaman sekarang, ini semua tidak terlepas dari episteme yang dimiliki masyarakat pada setiap zaman periode. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan kesadaran yang ada dimasyarakat akan selalu mengalami perkembangan karena kehidupan realitas di masyarakat selalu dinamis. Kesadaran yang ada di masyarakat juga akan berubah terhadap orang gila. Gangguan seksualitas lama-kelamaan bisa menjadi terbuka di masyarakat yang tidak lagi dianggap tabu, aneh, atau bahkan tidak lagi dianggap gila. Hal ini bisa dibuktikan pada zaman sekarang ini dengan maraknya kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang ingin diakui keberadaan mereka oleh masyarakat. Karena sejatinya hal-hal bersifat seksualitas dan percintaan tidak ada yang tahu mereka sedang gila atau tidak dan seharusnya hal itu menjadi kebebasan yang mutlak dimiliki oleh setiap individu manusia.

Daftar Pustaka :
Majalah BASIS menembus fakta Konfrontasi Foucault & Marx Nomor 01-02, Tahun ke-51, Januari - Februari 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar