Senin, 01 Februari 2016

Erving Goffman : Dramaturgi "Keadaan Sekitar Area Loket Di Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang"

Stasiun kereta api kota Malang merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Trunojoyo No.10 kecamatan Klojen, Malang, Jawa Timur. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api terbesar di Kota Malang. Stasiun ini terkadang disebut sebagai Stasiun Malang Kotabaru untuk membedakannya dengan Stasiun Malang Kotalama yang ada di Jalan Kol. Sugiono, Ciptomulyo Malang. Stasiun kereta api Kotabaru ini menghadap langsung ke arah icon Kota Malang, yaitu Monumen Tugu yang berada di depan kantor Balai Kota Malang. Lokasi Stasiun Malang sangat strategis karena terletak tidak jauh dari Alun-Alun Bundar. Karena lokasinya yang strategis, menjadikan Stasiun Kota Baru juga dekat dengan beberapa tempat penginapan terkenal seperti Hotel Tugu dan Splendid Inn yang terletak di sebelah selatan Stasiun Kereta Api Malang ini. Stasiun Tugu juga dilintasi beberapa angkutan umum / mikrolet kawasan Kota Malang seperti ADL (Arjosari – Dinoyo – Landung Sari) dan AL (Arjosari – Landung Sari). Di dalam atau di luar stasiun kereta api banyak perilaku sosial yang dilakukan masyarakat seperti calo, satpam, pelayan loket, cleaning service, tukang parkir, pengemis dan pedagang kaki lima. sehingga menggugah peneliti untuk mengambil observasi di lokasi stasiun. Peneliti melakukan penelitian dalam hal ini untuk membuktikan prespektif dari Erving Goffman seorang sosiolog dari Amerika yang memaparkan mengenai Dramaturgi.


Erving Goffman lahir di Mannville, Alberta, Canada, 11 Juni 1922. Meraih gelar Bachelor of Arts (B.A) tahun 1945, gelar Master of Arts tahun 1949 dan gelar Philosophy Doctor (Ph.D) tahun 1953. Tahun 1958 meraih gelar Guru Besar, tahun 1970 diangkat menjadi anggota Committee for Study of Incarceration. Dan tepat di tahun 1977 ia memperoleh penghargaan Guggenheim. Meninggal pada tahun 1982, setelah sempat menjabat sebagai Presiden dari American Sociological Association dari tahun 1981-1982. (Ritzer, 2004: 296). Salah satu karya Goffman pada tahun 1959 yaitu dalam bukunya “Presentation of Self in Every Day” mengenai Dramaturgi.

          Dramaturgi adalah cara perilaku seperti peran dalam drama yang dilakukan oleh
individu atau kelompok untuk mendapatkan keinginan yang diharapkan dan perilaku ini terus berkelanjutan. Dramaturgi yang lebih diteliti yaitu mengenai wilayah (region). Goffman mengatakan bahwa “Wilayah sebagai tempat yang dibatasi oleh persepsi” (Goffman, 1959: 66) maksudnya adalah bahwa wilayah menjadi hambatan individu untuk melakukan keinginan yang diharapkannya karena wilayah dipengaruhi oleh hasil dari persepsi individu-individu yang kemudian disepakati bersama menjadi norma dan budaya yang harus dilakukan. Sebagai contoh seseorang beribadah ke masjid dia menggunakan baju muslim tidak memakai kaos oblong. Kemudian dalam wilayah dibagi menjadi 3 yaitu wilayah depan (front region), belakang (back region) dan The Out Ide. Dalam dramaturgi juga ada yang namanya Front stage adalah peran yang dilakukan individu untuk menunjukkan kepada individu lainnya atas apa yang diharapkan dalam perumpamaannya ketika pemeran drama berada ditengah panggung sedang memainkan perannya untuk mendapatkan reward dari penonton, kemudian yang menjadi tempat di frontstage merupakan wilayah front region. Sedangkan backstage adalah persiapan perilaku untuk melakukan front stage sebagai perumpamaannya dalam drama yaitu ketika para pemeran drama berada dalam ruang tata rias dan mempersiapkan drama tersebut untuk berjalan dengan lancar, kemudian yang menjadi tempat di backstage merupakan wilayah back region.

Karena diawal merupakan kerja tim shingga sebelum peneliti melakukan penelitian, tim peneliti membagi tema lokasi area kepada anggota dan peneliti mendapatkan area di sekitar loket. Sehari sebelum peneliti melakukan penilitian, peneliti sudah mempersiapkan apa saja hal-hal yang harus dilakukan menjelang observasi. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan metode pengamatan dan wawancara. Di area lokasi loket peneliti duduk diantara para calon penumpang untuk mengamati kondisi fisik yang ada di stasiun disana terdapat loket, kursi tunggu, papan jadwal keberangkatan, meja untuk menulis borang tiket, fasilitas free charging, elektronik tiket, kantor customer service dan tempat boarding pass. Untuk kondisi suasana di area loket sangat ramai banyak macam-macam perilaku yang dilakukan seperti yang dilakukan calon pembeli tiket melihat papan jadwal keberangkatan, menulis borang tiket di meja, memanfaatkan elektronik tiket untuk mengurangi kepadatan mengantri di loket, calon penumpang yang menunggu kedatangan kereta di  kursi tunggu, mengantri di loket dan pemanfaatan fasilitas free charging. 

Kemudian peneliti melakukan wawancara dengan tidak sengaja (tidak terbuka) sebagai upaya agar tidak menghilangkan esensi dari narasumber. Tujuan dari wawancara adalah memperoleh pendapat dari narasumber mengenai keadaan di sekitar area loket stasiun. Narasumber yang peneliti wawancara (tidak disebutkan nama untuk menjaga privasi seseorang) menunjukan seorang yang berusia 20an dan berpendidikan cukup tinggi, walaupun peneliti tidak menanyakannya dapat dilihat dari cara dan gaya bicara yang dilakukan serta pakaian formal yang digunakan. Peneliti juga sempat menanyakan pengetahuan informasi jadwal keberangkatan dan harga tiket yang diketahui oleh narasumber dari internet. 

Dalam analisa observasi terkait prespektif goffman untuk aspek lingkungan berhubungan dengan wilayah (region). Di area loket peneliti mengambil contoh perilaku petugas loket yang melayani pembeli dengan menggunakan baju dinas dan bersikap sopan santun karena untuk menjaga reputasi PT. Kereta Api Indonesia dari penilaian masyarakat hal ini menunjukkan bahwa petugas loket sedang berada di wilayah depan (front region) karena bertatap muka dengan pembeli sedangkan ketika petugas loket berada dalam loket dan berbicara atau berinteraksi dengan petugas lainnya cara bersikap dan tuturkatanya berbeda agak sedikit kasar, wilayah ini menunjukkan petugas loket sedang berada diwilayah back region (wilayah belakang). Untuk aspek perilaku dalam observasi peneliti mengambil contoh perilaku pembeli tiket yang sedang mengantri dengan raut wajah lesu, bosan dan tidak mengenakkan tetapi pembeli tetap bersabar untuk menghadapinya, hal ini sedang menunjukkan dalam keadaan di backstage. Kemudian ketika pembeli tetap bersabar menunggu untuk mendapatkan tiket dan tidak ada perilaku seperti marah-marah atau pulang, selama itu menunjukkan berada di frontstage untuk mendapatkan penilaian yang baik dari individu lainnya. Untuk hasil wawancara yang diperoleh adalah pendapat dari narasumber mengenai keadaan di sekitar area loket stasiun dengan keadaan sudah nyaman dan bersih, fasilitas yang sudah baik seperti adanya free charging yang dapat membantu masyarakat dan elektronik tiket. Narasumber juga memberi pendapat bahwa pembeliaan tiket online lebih memudahkan untuk calon penumpang dibandingkan tiket manual yang biasanya dibutuhkan untuk tiket langsung jalan. Dapat dianalisa jika dikaitkan dengan Dramaturgi bahwa narasumber tersebut memiliki pengetahuan yang cukup seputar jadwal keberangkatan dan harga tiket yang diperoleh dari internet menunjukkan bahwa berada di backstage untuk persiapan menghadapi kejadian di stasiun seperti pembelian tiket yang menunjukkan front stage.

Dari semua yang tertulis dapat disimpulkan penelitian terhadap prespektif dari Erving Goffman  mengenai Dramaturgi terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan contoh mengambil perilaku sosial di lokasi stasiun kereta api.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar